HCI Architecture: Cara Merancang Arsitektur Hyperconverged Infrastructure yang Scalable dan Resilient

News Image
Zulfi Al Hakim | 16th Sept. 2026

Pendahuluan: HCI Architecture Bukan Sekadar Menggabungkan Server dan Storage

Hyperconverged Infrastructure (HCI) sering dipahami secara sederhana sebagai teknologi yang menggabungkan compute, storage, dan networking ke dalam satu cluster.

Namun, membangun HCI architecture yang tepat tidak berhenti pada memilih jumlah node dan kapasitas storage.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Bagaimana merancang arsitektur HCI yang mampu memenuhi kebutuhan workload saat ini, tetap resilient ketika terjadi failure, dan dapat berkembang selama 3–5 tahun tanpa menghasilkan infrastruktur yang overprovisioned atau sulit dikelola?

Jawabannya membutuhkan pendekatan architecture-first.

Sebuah HCI cluster harus dirancang berdasarkan kombinasi:

  • Workload requirement

  • Compute requirement

  • Storage capacity

  • Storage performance

  • Network architecture

  • Data protection

  • High availability

  • Failure domain

  • Scalability

  • Security

  • Operational requirements

  • Growth projection

Dengan kata lain:

Workload → Requirements → Architecture → Node Configuration → Growth

bukan sebaliknya.


Apa Itu HCI Architecture?

HCI architecture adalah desain infrastruktur yang mengintegrasikan resource compute, storage, networking, virtualization, dan management ke dalam sebuah cluster terdistribusi.

Dalam traditional infrastructure, komponen tersebut biasanya dipisahkan:

Traditional Infrastructure

Compute
   │
   ├── Server
   │
   └── Hypervisor

Storage
   │
   └── SAN / NAS

Network
   │
   └── Switch

Management
   │
   └── Multiple Management Systems

HCI mengubah pendekatan tersebut menjadi arsitektur yang lebih terintegrasi:

HCI Architecture

          ┌─────────────────────┐
          │   HCI Management    │
          └──────────┬──────────┘
                     │
       ┌─────────────┴─────────────┐
       │        HCI Cluster        │
       │                           │
       │ Node 1  │ Node 2 │ Node 3 │
       │         │        │        │
       │ Compute │ Compute│Compute │
       │ Storage │Storage │Storage │
       │ Network │Network │Network │
       └─────────┴────────┴────────┘

Setiap node berkontribusi terhadap resource cluster, sementara software-defined architecture mengelola resource tersebut sebagai satu infrastructure pool.


Mengapa HCI Architecture Harus Dirancang dari Workload?

Kesalahan umum dalam implementasi HCI adalah memulai dari pertanyaan:

"Berapa node HCI yang harus dibeli?"

Pertanyaan tersebut seharusnya muncul setelah workload dianalisis.

Mulailah dengan:

1. Apa workload yang akan dijalankan?

Contohnya:

  • Virtual machine

  • Database

  • ERP

  • VDI

  • File services

  • Application server

  • Kubernetes

  • Backup workload

  • AI/analytics workload

2. Berapa resource yang dibutuhkan?

Analisis:

  • vCPU

  • RAM

  • Storage capacity

  • IOPS

  • Throughput

  • Latency

  • Network bandwidth

3. Bagaimana workload tersebut berkembang?

Forecast:

  • VM growth

  • Data growth

  • User growth

  • Application growth

  • New workloads

Dari sinilah arsitektur HCI mulai terbentuk.


Komponen Utama HCI Architecture

Secara umum, HCI architecture dapat dibagi menjadi beberapa layer.

┌───────────────────────────────────┐
│          Applications             │
├───────────────────────────────────┤
│        Virtual Machines           │
├───────────────────────────────────┤
│       Hypervisor / Compute        │
├───────────────────────────────────┤
│   Distributed Storage Layer       │
├───────────────────────────────────┤
│     Network / Data Fabric         │
├───────────────────────────────────┤
│       Physical HCI Nodes          │
└───────────────────────────────────┘

Setiap layer memiliki peran berbeda dan harus dirancang sebagai bagian dari satu sistem.


Compute Architecture

Compute merupakan salah satu fondasi HCI.

Sizing compute tidak cukup hanya berdasarkan jumlah VM.

Perhitungkan:

  • vCPU requirement

  • Physical CPU core

  • CPU generation

  • CPU utilization

  • Memory-to-core ratio

  • NUMA architecture

  • Oversubscription

  • Peak workload

  • Future growth

Misalnya, sebuah environment memiliki:

100 VM × rata-rata 4 vCPU

maka logical requirement adalah:

400 vCPU

Tetapi 400 vCPU tidak otomatis berarti organisasi membutuhkan 400 physical CPU cores.

Hypervisor memungkinkan CPU oversubscription, tetapi tingkat oversubscription harus disesuaikan dengan workload.

Database dan latency-sensitive application, misalnya, dapat memiliki kebutuhan CPU yang berbeda dibandingkan general-purpose VM.

Karena itu:

Compute sizing = Capacity + Performance + Growth


Memory Architecture

Memory sering menjadi resource yang membatasi pertumbuhan HCI sebelum CPU atau storage.

Perhitungan harus mempertimbangkan:

  • VM allocated memory

  • Actual memory utilization

  • Hypervisor overhead

  • HCI services

  • Memory reservation

  • Memory overcommitment

  • Future workload

Contoh:

Jika total VM membutuhkan:

800 GB RAM

dan HCI platform membutuhkan resource tambahan untuk management serta distributed services, maka node harus memiliki kapasitas lebih besar dari sekadar 800 GB.

Tambahkan juga headroom untuk failure scenario.

Pertanyaan penting:

Jika satu node gagal, apakah node yang tersisa masih memiliki RAM yang cukup untuk menjalankan seluruh workload?

Inilah perbedaan antara resource sizing dan architecture sizing.


Distributed Storage Architecture

Storage pada HCI berbeda dengan storage array tradisional.

Pada traditional architecture:

Server → SAN → Storage Array

Pada HCI:

Node 1 ─┐
Node 2 ─┼── Distributed Storage Pool
Node 3 ─┤
Node 4 ─┘

Storage dari setiap node dikonsolidasikan menjadi distributed datastore.

Karena itu, architecture harus memperhitungkan:

  • Raw capacity

  • Usable capacity

  • Data protection

  • Replication

  • Erasure Coding

  • Deduplication

  • Compression

  • IOPS

  • Throughput

  • Latency

  • Rebuild capacity

  • Storage growth


Usable Capacity Bukan Raw Capacity

Salah satu kesalahan paling umum dalam HCI architecture adalah menganggap:

Raw Capacity = Usable Capacity

Padahal:

Raw Capacity

Data protection

Platform overhead

Deduplication & compression

Reserved capacity

Failure/rebuild headroom

Usable Capacity

Misalnya cluster memiliki 100 TB raw capacity.

Setelah protection policy, overhead, efficiency, dan operational reserve diperhitungkan, kapasitas yang dapat digunakan workload dapat jauh lebih kecil.

Karena itu, architecture harus dirancang berdasarkan usable capacity, bukan sekadar jumlah TB yang terpasang.


Replication vs Erasure Coding

Data protection merupakan bagian penting dari HCI architecture.

Dua pendekatan yang umum digunakan adalah:

Replication

Data disimpan dalam beberapa copy.

Keuntungannya adalah architecture yang relatif sederhana dan predictable.

Trade-off-nya adalah kebutuhan physical storage yang lebih besar.

Erasure Coding

Data dan parity didistribusikan ke beberapa node.

Pendekatan ini dapat meningkatkan storage efficiency, tetapi memiliki persyaratan dan trade-off tertentu terkait cluster configuration, performance, rebuild, dan failure domains.

Karena itu, pemilihan protection policy harus mempertimbangkan:

  • Availability requirement

  • Capacity efficiency

  • Performance

  • Number of nodes

  • Failure tolerance

  • Rebuild behavior

  • Workload characteristics

Protection policy adalah bagian dari architecture, bukan konfigurasi yang dipikirkan setelah cluster dibeli.


Network Architecture

Network adalah salah satu komponen paling kritis dalam HCI.

Berbeda dengan traditional virtualization, HCI menggunakan network untuk berbagai aktivitas internal, termasuk:

  • VM traffic

  • Storage traffic

  • Replication

  • Management

  • Cluster communication

  • Rebuild

  • Resynchronization

  • Backup

  • Migration

Karena itu, network architecture harus mempertimbangkan:

Bandwidth

Apakah link cukup untuk normal operation dan peak activity?

Latency

Apakah latency memenuhi requirement distributed storage?

Redundancy

Apakah failure satu link atau switch akan mengganggu cluster?

Segmentation

Apakah management, storage, VM, dan backup traffic perlu dipisahkan secara logical atau physical?


Network Redundancy

HCI architecture sebaiknya tidak bergantung pada satu network path.

Contoh sederhana:

             Network Fabric
              /          \
          Switch A      Switch B
           /   \          /   \
        Node1 Node2    Node3 Node4

Dengan redundant paths, failure pada salah satu component tidak langsung menyebabkan kehilangan connectivity seluruh cluster.

Namun, topology yang tepat tetap bergantung pada HCI platform, switch architecture, NIC configuration, dan availability requirement.


High Availability dan Failure Domain

HCI architecture harus dirancang dengan pertanyaan:

Apa yang terjadi ketika sesuatu gagal?

Failure scenario dapat mencakup:

  • Disk failure

  • NIC failure

  • Network switch failure

  • Node failure

  • Power failure

  • Rack failure

  • Availability-zone failure

Semakin tinggi availability requirement, semakin penting failure domain menjadi bagian dari architecture.

Contohnya:

Rack A                  Rack B
┌─────────┐             ┌─────────┐
│ Node 1  │             │ Node 3  │
│ Node 2  │             │ Node 4  │
└─────────┘             └─────────┘
      \                     /
       └──── Network ──────┘

Jika seluruh node berada pada satu rack, sebuah rack-level incident dapat memengaruhi seluruh cluster.

Dengan fault-domain-aware design, workload dapat didistribusikan agar resilience lebih tinggi.


Node Sizing: Balanced vs Specialized

HCI architecture umumnya menggunakan node dengan resource yang relatif seimbang.

Namun, kebutuhan workload dapat membuat organisasi mempertimbangkan konfigurasi berbeda.

Misalnya:

Compute-heavy

Cocok untuk workload yang membutuhkan:

  • CPU tinggi

  • RAM tinggi

  • Storage moderat

Storage-heavy

Cocok ketika kebutuhan utama adalah:

  • Capacity tinggi

  • Data-intensive workloads

  • Large datasets

Balanced

Cocok untuk general-purpose virtualization.

Pertanyaan yang harus dijawab:

Apakah workload Anda membutuhkan compute, memory, storage capacity, atau storage performance yang paling dominan?

Jawabannya akan menentukan node architecture.


Scale-Up vs Scale-Out

Salah satu keunggulan HCI adalah kemampuan scale-out.

Traditional infrastructure sering menggunakan:

Scale-up

Server
↓
CPU ↑
RAM ↑
Storage ↑

HCI lebih banyak menggunakan:

Scale-out

Node 1 + Node 2 + Node 3
           ↓
       Add Node 4
           ↓
       Add Node 5

Namun, scale-out bukan berarti:

"Tambahkan node kapan pun tanpa perencanaan."

Setiap penambahan node dapat memengaruhi:

  • Capacity

  • Compute ratio

  • Storage ratio

  • Licensing

  • Network

  • Power

  • Rack space

  • Data distribution

  • Operational model

Karena itu, scalability harus dirancang sejak awal.


Architecture untuk Growth 3–5 Tahun

HCI architecture yang baik tidak hanya memenuhi kebutuhan hari ini.

Buat forecast:

Year 0

Current workload

Year 1

Expected growth

Year 2

New workloads

Year 3

Capacity expansion

Year 4

Infrastructure refresh consideration

Year 5

Target architecture

Contoh:

Jika workload saat ini membutuhkan 100 TB storage dan tumbuh 20% per tahun:

Future Capacity = 100 × (1.20)^5

≈ 249 TB

Tetapi storage bukan satu-satunya resource yang tumbuh.

Lakukan forecast yang sama untuk:

  • CPU

  • RAM

  • IOPS

  • Network

  • VM count

Dengan demikian, organisasi dapat mengetahui apakah bottleneck lima tahun mendatang kemungkinan berada di compute, memory, storage, atau network.


HCI Architecture Harus Mempertimbangkan Failure Capacity

Sebuah cluster mungkin terlihat cukup besar dalam kondisi normal.

Namun, bagaimana jika satu node gagal?

Contoh:

4-node cluster

1 node failure

3 nodes remaining

Apakah tiga node tersebut masih memiliki:

  • CPU cukup?

  • RAM cukup?

  • Storage capacity cukup?

  • Protection capacity cukup?

  • Network bandwidth cukup?

Jika jawabannya tidak, maka cluster tersebut belum memiliki architecture yang sesuai dengan requirement availability.

Karena itu, sizing harus dilakukan terhadap:

Normal State + Failure State + Growth State

bukan hanya normal state.


Security Architecture

HCI juga membutuhkan security architecture.

Pertimbangkan:

  • Management network isolation

  • Role-Based Access Control

  • MFA

  • Encryption

  • Secure boot

  • Firmware management

  • Hypervisor hardening

  • Network segmentation

  • Logging

  • Vulnerability management

  • Backup protection

Management plane harus mendapatkan perhatian khusus karena kompromi terhadap management infrastructure dapat memberikan akses luas terhadap resource cluster.


Management dan Operations

HCI menyederhanakan infrastructure management, tetapi bukan berarti operational planning tidak diperlukan.

Architecture harus menentukan:

  • Monitoring

  • Alerting

  • Capacity management

  • Patch management

  • Firmware lifecycle

  • Hypervisor lifecycle

  • Backup

  • Disaster Recovery

  • Configuration management

  • Automation

Salah satu keuntungan HCI adalah centralized management.

Tetapi centralized management juga berarti management plane harus dirancang dengan reliability dan security yang memadai.


Backup dan Disaster Recovery Bukan Bagian dari HCI HA

Ini adalah perbedaan yang sangat penting.

High Availability ≠ Backup

dan:

High Availability ≠ Disaster Recovery

HA dirancang agar workload tetap tersedia ketika terjadi failure tertentu di dalam infrastructure.

Backup menyediakan kemampuan untuk melakukan recovery terhadap data.

Disaster Recovery menangani skenario yang lebih luas seperti:

  • Site failure

  • Major infrastructure incident

  • Ransomware

  • Data corruption

  • Regional disaster

Karena itu, HCI architecture harus terintegrasi dengan:

Production → Backup → DR

bukan hanya:

Production → HA


HCI Architecture Design Framework

Untuk menghasilkan architecture yang konsisten, gunakan pendekatan berikut:

1. Assess
   ↓
2. Define Requirements
   ↓
3. Size Compute
   ↓
4. Size Memory
   ↓
5. Size Storage
   ↓
6. Design Network
   ↓
7. Define Protection
   ↓
8. Design Failure Domains
   ↓
9. Add Growth
   ↓
10. Validate Architecture

Step 1 — Assess

Kumpulkan data existing infrastructure.

Step 2 — Define Requirements

Tentukan workload dan SLA.

Step 3 — Size Compute

Hitung CPU dan memory.

Step 4 — Size Storage

Hitung capacity dan performance.

Step 5 — Design Network

Tentukan bandwidth, latency, redundancy, dan segmentation.

Step 6 — Define Protection

Tentukan replication atau erasure coding.

Step 7 — Design Failure Domain

Tentukan bagaimana cluster menghadapi failure.

Step 8 — Add Growth

Proyeksikan kebutuhan 3–5 tahun.

Step 9 — Validate

Pastikan architecture memenuhi:

Capacity + Performance + Availability + Scalability


HCI Architecture Checklist

Sebelum membeli atau membangun HCI cluster, pastikan pertanyaan berikut telah dijawab:

Workload

  •  Berapa jumlah VM?

  •  Berapa vCPU?

  •  Berapa RAM?

  •  Berapa storage?

  •  Berapa IOPS?

  •  Berapa throughput?

  •  Apa peak workload?

Storage

  •  Raw capacity?

  •  Usable capacity?

  •  Replication atau Erasure Coding?

  •  Deduplication?

  •  Compression?

  •  Snapshot requirement?

  •  Rebuild capacity?

  •  3–5 year growth?

Compute

  •  CPU requirement?

  •  Memory requirement?

  •  Oversubscription ratio?

  •  Failure-state capacity?

  •  Growth requirement?

Network

  •  Bandwidth?

  •  Latency?

  •  NIC redundancy?

  •  Switch redundancy?

  •  Network segmentation?

  •  Storage traffic design?

Availability

  •  Node failure?

  •  Disk failure?

  •  Network failure?

  •  Rack failure?

  •  Fault domain?

  •  HA requirement?

Operations

  •  Monitoring?

  •  Backup?

  •  DR?

  •  Security?

  •  Patch management?

  •  Lifecycle management?


Kesimpulan: HCI Architecture Harus Dimulai dari Requirement

HCI architecture yang baik bukan sekadar:

Server + Storage + Hypervisor

Architecture yang tepat harus menghubungkan seluruh komponen menjadi satu sistem:

Workload

Compute

Memory

Distributed Storage

Network

Data Protection

High Availability

Security

Operations

3–5 Year Growth

Dengan pendekatan ini, organisasi dapat menghindari dua masalah utama.

Pertama, overprovisioning, yaitu membeli resource jauh lebih besar daripada kebutuhan sebenarnya.

Kedua, underprovisioning, yaitu membangun cluster yang terlihat cukup saat deployment tetapi tidak mampu menangani growth, failure, atau workload baru beberapa tahun kemudian.

Karena itu, desain HCI sebaiknya dilakukan dengan prinsip:

Design for today's workload, validate for tomorrow's growth, and architect for failure.

Get a Free HCI Consultation with Btech

Merancang HCI architecture yang tepat membutuhkan lebih dari sekadar menghitung jumlah node.

Btech dapat membantu melakukan assessment dan architecture planning berdasarkan workload aktual, termasuk:

  • HCI architecture assessment

  • Compute & memory sizing

  • Storage capacity & performance sizing

  • Replication vs Erasure Coding

  • Network architecture

  • High Availability & failure-domain design

  • 3–5 year capacity planning

  • Backup & Disaster Recovery architecture

  • HCI implementation planning

Jika Anda sedang merencanakan HCI deployment, infrastructure refresh, data center modernization, atau virtualization platform transformation, konsultasikan kebutuhan Anda bersama Btech.

Dapatkan Free HCI Consultation

Email: contact@btech.id
WhatsApp/Phone: +62-811-1123-242

Mulai dari workload dan business requirement Anda, lalu bangun HCI architecture yang scalable, resilient, dan siap untuk pertumbuhan jangka panjang.

Related Articles by Category