Bagaimana PT Boer Technology Membantu Memperkuat Skalabilitas Platform Keuangan Pemerintah melalui Assessment Infrastruktur Kubernetes

News Image
Zulfi Al Hakim | 11th Juni 2026

Tujuan

Salah satu institusi keuangan pemerintah terbesar di Indonesia memerlukan asesmen menyeluruh terhadap infrastruktur sistem administrasi perpajakan nasional yang berjalan di atas platform Kubernetes untuk mengevaluasi kondisi operasional saat ini, mengidentifikasi potensi risiko skalabilitas dan keandalan, serta menyusun roadmap pengembangan yang terstruktur sesuai dengan praktik terbaik (best practices) Kubernetes untuk lingkungan produksi.

PT Boer Technology melakukan asesmen infrastruktur secara menyeluruh yang mencakup arsitektur klaster Kubernetes, utilisasi node, konfigurasi penyimpanan, RabbitMQ, Redis, serta manajemen workload guna mendukung stabilitas operasional jangka panjang dan inisiatif modernisasi platform.

Latar Belakang

Platform kritikal tersebut beroperasi pada lingkungan Kubernetes berskala besar yang terdiri dari:

  • Lebih dari 20 node Kubernetes (Control Plane dan Worker Nodes)

  • Platform Kubernetes untuk layanan administrasi perpajakan nasional

  • Ratusan deployment yang tersebar pada berbagai namespace aktif

  • Lebih dari 200 resource HorizontalPodAutoscaler (HPA)

  • Workload stateful termasuk klaster RabbitMQ dan Redis

  • Lingkungan infrastruktur berbasis Ubuntu LTS

  • Implementasi Calico CNI dan containerd runtime

Asesmen mengidentifikasi sejumlah tantangan operasional dan arsitektural, antara lain:

  • Versi Kubernetes dan container runtime yang telah mencapai End-of-Life (EOL)

  • Belum diterapkannya mekanisme Pod Security

  • Tidak adanya kebijakan ResourceQuota dan LimitRange

  • Arsitektur penyimpanan Redis yang menggunakan shared storage sehingga menciptakan Single Point of Failure (SPOF)

  • Konfigurasi memori RabbitMQ yang beroperasi mendekati ambang batas Out-of-Memory (OOM)

  • Alokasi sumber daya komputasi yang berlebihan sehingga menurunkan efisiensi klaster

  • Penggunaan API autoscaling lama yang membatasi fleksibilitas penskalaan

  • Mekanisme perlindungan terhadap gangguan workload yang masih terbatas

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko terhadap skalabilitas, ketahanan operasional, dan pengembangan platform di masa mendatang.

Pendekatan

PT Boer Technology melaksanakan asesmen infrastruktur Kubernetes dan analisis operasional secara terstruktur dengan fokus pada kesiapan produksi (production readiness) dan optimasi platform.

Aktivitas asesmen meliputi:

  • Meninjau arsitektur klaster Kubernetes dan topologi infrastruktur

  • Mengumpulkan metrik utilisasi CPU dan memori pada tingkat node

  • Mengevaluasi konfigurasi runtime, jaringan, dan penyimpanan Kubernetes

  • Menilai kapasitas RabbitMQ, mekanisme persistence, quorum, serta alokasi sumber daya

  • Menganalisis arsitektur persistence Redis dan performa penyimpanan

  • Meninjau implementasi autoscaling dan strategi penjadwalan workload

  • Mengidentifikasi celah keamanan dan risiko operasional

  • Membandingkan konfigurasi yang ada dengan praktik terbaik Kubernetes

Berdasarkan hasil asesmen, PT Boer Technology menyusun roadmap rekomendasi yang diprioritaskan berdasarkan tingkat kritikalitas, menengah, dan rendah.

Rekomendasi utama yang diberikan meliputi:

  • Upgrade klaster Kubernetes ke versi stabil yang masih didukung

  • Migrasi dari API HPA lama ke autoscaling/v2

  • Implementasi kebijakan Pod Security Baseline

  • Ekspansi kapasitas penyimpanan ETCD untuk mendukung skalabilitas produksi

  • Penerapan PodDisruptionBudget untuk meningkatkan ketersediaan layanan

  • Migrasi penyimpanan Redis dari shared RWX storage ke volume RWO yang terdedikasi

  • Optimasi konfigurasi memory watermark pada RabbitMQ

  • Penyesuaian (right-sizing) alokasi sumber daya komputasi untuk meningkatkan efisiensi scheduler

  • Implementasi Descheduler dan TopologySpreadConstraint

  • Adopsi arsitektur Gateway API untuk modernisasi manajemen lalu lintas (traffic management)

Hasil

Asesmen ini memberikan visibilitas operasional yang komprehensif kepada institusi keuangan tersebut sekaligus menghasilkan roadmap modernisasi bertahap untuk platform Kubernetes yang mendukung sistem administrasi perpajakan nasional.

Hasil utama yang dicapai meliputi:

  • Visibilitas menyeluruh terhadap kesehatan klaster Kubernetes dan utilisasi workload

  • Identifikasi hambatan stabilitas dan skalabilitas pada lingkungan produksi

  • Prioritisasi perbaikan infrastruktur berdasarkan dampak operasional

  • Rekomendasi mitigasi risiko untuk quorum RabbitMQ dan persistence Redis

  • Identifikasi alokasi sumber daya komputasi yang tidak efisien pada workload stateful

  • Rekomendasi penguatan keamanan yang selaras dengan praktik terbaik Kubernetes

  • Roadmap peningkatan skalabilitas melalui autoscaling dan distribusi workload yang lebih optimal

  • Fondasi yang kuat untuk inisiatif modernisasi platform Kubernetes di masa depan

Sebelum

  • Klaster Kubernetes masih menggunakan versi yang telah mencapai End-of-Life (EOL)

  • Workload Redis bergantung pada shared NFS storage yang memiliki risiko SPOF

  • Konfigurasi memori RabbitMQ beroperasi mendekati ambang batas OOM

  • Belum terdapat penerapan Pod Security

  • Mekanisme perlindungan terhadap gangguan workload masih terbatas

  • Manajemen lalu lintas dilakukan secara manual menggunakan konfigurasi nginx.conf

  • Reservasi sumber daya klaster belum dioptimalkan

  • Implementasi HPA masih terbatas pada autoscaling berbasis CPU

Sesudah

  • Roadmap modernisasi untuk upgrade dan optimasi klaster telah disusun

  • Risiko operasional pada lingkungan produksi berhasil diidentifikasi beserta rekomendasi mitigasinya

  • Rencana peningkatan arsitektur persistence Redis telah ditetapkan

  • Strategi peningkatan ketahanan operasional RabbitMQ dan perlindungan quorum telah dirumuskan

  • Kerangka implementasi baseline keamanan telah terdokumentasi

  • Strategi peningkatan autoscaling menggunakan autoscaling/v2 telah disiapkan

  • Rencana peningkatan skalabilitas infrastruktur dan distribusi workload telah ditetapkan

  • Tata kelola operasional dan keselarasan terhadap praktik terbaik Kubernetes semakin diperkuat

Pembelajaran Utama

  • Lingkungan Kubernetes berskala besar memerlukan asesmen operasional secara berkala untuk menjaga kesiapan produksi dan kemampuan skalabilitas.

  • Layanan stateful seperti RabbitMQ dan Redis memerlukan optimasi arsitektur yang tepat untuk menghindari bottleneck performa dan risiko operasional.

  • Strategi modernisasi yang dilakukan secara bertahap memungkinkan organisasi meningkatkan keandalan infrastruktur tanpa mengganggu layanan kritikal yang sedang berjalan.